Tulang Rusukku Yang Pergi Entah
Kemana
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
merupakan sebuah novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah
(Hamka). Novel tersebut dijadikan sebagai sebuah film yang mengisahkan
persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial
yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan
kematian. Film ini disutradarai oleh Sunil Soraya dan di produseri oleh Ram
Soraya. Proses produksinya menghabiskan waktu selama 5 tahun. Sedangkan
penulisan skenarionya dilakukan selama dua tahun,dan dengan biaya produksi yang
tinggi film ini dirilis pada tanggal 19 Desember 2013. Film yang dibintangi
oleh Pevita Pearce (Hayati), Herjunot Ali (Zainuddin), Reza Rahardian (Aziz),
dan Randy Danistha (Bang Muluk). Pada tahun 1962 novel ini dianggap sebagai
plagiasi dari karya Jean Baptiste Alphonse Karr berjudul Sous Ies Tilleuls
(1832).
Zainuddin
adalah seorang pemuda Makassar yang pergi ke Batipuh,Padang Panjang untuk
mengenal lebih jauh tentang tanah kelahiran ayahnya dan untuk belajar agama.
Semenjak tinggal di Batipuh, ia dekat dengan seorang gadis Minang bernama
Hayati. Zainuddin dan Hayati saling mencintai. Cinta mereka berdua merupakan
cinta suci yang tulus dan murni. Tetapi, cinta mereka tidak di restui oleh
orang tua Hayati dikarenakan perbedaan adat dan budaya yang sangat kental.
Orang tua Hayati lebih memilih menerima lamaran dari Aziz, laki-laki terpandang
yang bergelimang harta dan keturunan bangsawan. Kini terputuslah sudah harapan
Zainuddin untuk memiliki Hayati. Maka dari itu, Zainuddin ingin melupakannya
dan bangkit dari masa lalunya yang pedih. Tetapi, beberapa tahun kemudian
Zainuddin bertemu dengan Hayati dan suaminya Aziz dalam acara Opera Sumatra
yang diselenggarakan oleh Zainuddin di Surabaya. Setelah itu, Hayati menemui
Zainuddin untuk meminta maaf atas segala perbuatannya yang telah melukai hati
Zainuddin. Namun, ia tidak menghiraukan permintaan maaf dari Hayati dan
menyuruh Hayati untuk pulang ke Batipuh. Lalu kehidupan Hayati berakhir dalam
Kapal Van Der Wijck yang tiba-tiba di tengah perjalanan kapal tersebut tenggelam.
Melalui surat terakhir yang di tulis oleh Hayati sebelum ia pulang, Zainuddin tahu bahwa Hayati masih mencintainya
sampai kapan pun hingga akhir hayatnya.
Cerita
ini juga mempunyai beberapa kesamaan dengan film lain, yaitu film “ Di Bawah
Lindungan Ka’bah” yang juga merupakan karangan Hamka. Cerita ini sama-sama
melatarbelakangi perbedaan budaya yang amat teguh dan kuat. Film Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck ini sangat menonjolkan kuatnya hukum adat dan budaya Minang
sedangkan Film “Di Bawah Lindungan Ka’bah lebih menonjolkan sisi keagamaannya.
Selain itu, pada saat adegan tenggelamnya kapal, film ini memesan sebuah kapal
yang produksinya langsung dari Belanda untuk menampilkan kesan yang nyata. Film
ini juga berhasil mengumpulkan 100 ribuan penonton di seluruh Indonesia. Bahkan,
pada saat pembawaan suasana cerita film
seperti di tahun 1930-an, dari halnya pakaian, mobil, dan barang-barang
lainnya. Kelebihan lainnya yaitu penampilan Herjunot Ali (Zainuddin) yang luar
biasa, lafalan logat Makassarnya terasa fasih sekali, dan juga dialog-dialognya
yang begitu indah untuk didengar.
Meskipun
mempunyai beberapa kelebihan, film ini juga mempunyai beberapa kekurangan.
Yaitu tidak dijelaskan apa penyebabnya Kapal Van Der Wijck bisa tenggelam.
Judul film yang dipakai seharusnya menjadi suatu topik utama, tetapi malah
menjadi sesuatu yang terlihat biasa. Lalu, perubahan karakter Hayati yang
begitu cepat. Gadis yang tadinya memiliki adat dan budaya sangat kuat,tidak memakai
baju terbuka serta logat minangnya yang mulai berkurang menjelang akhir film
ketimbang di awal film. Bahkan masyarakat Minangkabau memprotes atas film
tersebut, karena pakaian yang dikenakan Hayati terlalu terbuka tidak sesuai
dengan Hayati yang ada dalam novel.
Film
yang sangat cocok untuk kalangan remaja maupun dewasa ini memiliki kisah
romantis yang menandakan Cinta Sejati sepasang kekasih. Dan juga adegannya yang
dramatis, namun pemeran-pemeran filmnya yang memang terkenal di Indonesia dapat
membuat semua mata tertuju pada film tersebut. Melewati pahitnya jalan
kehidupan yang amat pedih, ada kalanya kehidupan seseorang itu diatas dan juga
ada kalanya dibawah. Film ini merupakan lembaran-lembaran kehidupan yang berisi
pesan-pesan moral yang patut dicontoh. Serta adanya cinta suci yang tulus dan
murni.
terima kasih atas perhatiannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar